Bung Gata Mahardika, Tukang Gambar Dari Jogja

Posted by Ganas003 on Agustus 02, 2019 in

Menyebut dirinya sebagai Astronot partikelir pada laman Instagram pribadinya, bung mungkin akan dibentuk bingung. Sebab kalimat tersebut, terang jauh dari citra sosoknya. Bung Gata bukanlah seorang astronot, bukan pula seseorang yang bekerja untuk Nasa. 


Agar tak semakin keliru, sedikit kami jelaskan, bung Gata ialah seorang Filmmaker, animator juga illustrator yang berasal dari Yogya. Disosial media instagram, sosoknya kerap membuatkan beberapa hasil karya yang ia buat. Bahkan, alasannya ada beberapa pertanyaan yang kerap masuk di kolom komentar, pada laman instagram pribadinya di @gatagitu, ada satu konten yang menggunakan hastag #GatagituMenjawab. Disana bung sanggup lihat, bagaimana bung menjawab hal-hal yang sering ditanyakan oleh beberapa followers kepadanya. 


Astronot partikelir pada laman Instagram pribadinya Bung Gata Mahardika, Tukang Gambar dari Jogja


Dan dari beberapa karyanya sebelumnya, baru-baru ini bung Gata, diminta sebagai pihak yang melukiskan setiap nuansa dan rasa pada setiap lagu di debut album pertama milik Gardikah Gigih, berjudul “Nyala”. Sekedar Informasi, Gardikah Gigih, ialah sahabat dari bung Gata yang juga seorang komposer dan pianis dari Jogja.


Konon, mitra berjulukan orisinil Gata Guruh Mahardika ini ialah salah satu orang yang pernah mengenyam pendidikan Arsitektur di Universitas Gadjah Mada. Tapi menentukan kabur dari kampus, kemudian menekuni profesi yang kini ia jalani. Lantas apa bantu-membantu hal yang melatarbelakangi keputusan kaburnya tersebut? Demi mencari tahu jawabannya, ada beberapa pertanyaan yang sudah berhasil kami kirimkan pada bung Gata dan telah dijawab baik olehnya. 


Bisa diceritakan mengapa bung Gata terjun ke profesi sekarang, karena konon bung ialah lulus arsitek dari UGM?


Hmmm… intinya aku bukan tipe pembelajar yang sanggup anteng di kelas, aku penganut seeing is believing, practicing is understanding, jadi aku sering mangkir dan berkegiatan di luar. Nah, semesta membawa aku bertemu orang-orang yang berkecimpung di dunia kesenian, mulai dari seniman rupa, teater, musik, fotografer, dan praktisi seni terapan menyerupai ilustrasi dan video branding, jadilah sa sering membantu dan berguru pada orang-orang tersebut.


Saya bertapa di kawah candradimuka sambil mencari benang merah dari hal-hal yang aku pelajari, desain, estetika visual, musik, dramaturgi, kritik sosial, storytelling, dll. Eureka! Film!


p.s. aku nggak lulus loh, aku kabur dari kampus


Lalu apa yang lantas karenanya mendorong bung sampai menjalani profesi kini ini?


Sa banyak bergaul dengan orang yang lebih tua, entah kenapa, mungkin kehendak semesta juga. Jadi, dikala aku di awal umur 20-an, teman-teman aku banyak yang mengalami quarter life crisis, yang karenanya menular ke saya, aku mengalami quarter life crisis dikala seharusnya aku masih lalala di dunia yang indah ini. Krisis ini berakhir dikala aku mencapai simpulan “kalau aku tetap jadi arsitek, aku akan jadi arsitek yang biasa-biasa saja”.


Astronot partikelir pada laman Instagram pribadinya Bung Gata Mahardika, Tukang Gambar dari Jogja


Tapi ini bukan pelarian kan, alasannya merasa tak akan jadi arsitek yang handal?


Ini ialah pelarian, tapi nggak lari-lari banget sih. Pergaulan yang terlalu luas itu sanggup nggak baik juga, pergaulan membawa wawasan baru, dan Gata muda masih terlalu hijau untuk mendapatkan semua itu. Begini penjelasannya, aku sering ngobrol sama orang sosial dan arsitek yang lebih senior, entah mengapa, mereka ini enggak memposisikan aku sebagai mahasiswa, mereka melihat aku sebagai arsitek yang sudah berprofesi sepuluh tahun, jadi kami banyak ngobrol dan diskusi mengenai diskursus yang berat, wacana yang bukan makanan mahasiswa S1 arsitektur. Bla bla bla bla bla…


Akhirnya aku buntu, aku sanggup menilai kesalahan setiap desain, tapi aku nggak sanggup mbenerin, dan kemudian setiap mendesain niscaya nggak sanggup selesai. Buntu.


Pada laman instagram pada penggalan bio bung menulis “Astronot partikelir”, sanggup dijelaskan apa maknanya?


Nggak ada maknanya, ngasal aja.

Kalo dicek di KBBI, partikelir itu artinya menyerupai dengan swasta, bukan yang di bawah pemerintah.

“saya astronot, tapi swasta”

“emang sanggup gitu?”

“Enggak lah”

“jadi ngayal aja?”

“iya”


Konon selain beberapa proyek lukisan yang kemarin dipamerkan pada konser Gardikah Gigih, bung Gata juga pernah menciptakan karya animasi. Darimana itu dipelajari?


Ketika aku menasbihkan diri sendiri sebagai filmmaker, aku menemui banyak kerepotan, harus cari alat yang proper, harus cari aktor, harus cari lokasi, bla bla bla. Saya benci repot, aku power saving man. Saya tidak mengecewakan sanggup menggambar, jikalau gambarnya sanggup gerak sanggup jadi film, ya sudah aku bikin animasi saja. Internet yang mulia ialah guru saya.


Astronot partikelir pada laman Instagram pribadinya Bung Gata Mahardika, Tukang Gambar dari Jogja


Dan jikalau boleh tahu, untuk semua karya-karya yang sudah dihasilkan siapa sosok yang jadi panutan?


Wong Kar Wai, Michael Gondry, Wes Anderson, Woody Allen, Akira Kurosawa, Garin Nugroho, Hayao Miyazaki, dan pihak-pihak lainnya yang tidak sanggup aku sebutkan satu per satu.


Kalau ingin flashback ke belakang, apa karya yang pertama kali bung hasilkan?


Kalau animasi sih video pendek judulnya Sky Sailor, ini video untuk promosi konsernya Bung Gardika Gigih tahun 2013 mungkin ya.

Kalau festival pertama, judulnya Pertemuan Ke Dua, tempatnya di Padepokan Seni Bagong Kussudiardja.

Kalau karya pertama banget, aku pernah bikin bendungan pakai pohon pisang di kali depan rumah yang karenanya bikin aku dimarahi orang sekampung.


Dalam waktu dekat, adakah project yang sedang dikerjakan? Kalau memang ada, apa?


Ada berbagai proyek yang terbengkalai, ada video pendek aku bikin koreografi untuk abjad animasi, setengah jadi. Ada film pendek, masih bergelut di skrip. Ada film panjang, masih dalam proses riset. Yang kini sedang jalan ialah film pendek interaktif, mediumnya VR 360, ceritanya wacana refugee.