Tak Selamanya Belanja Pemain Mahal Sepadan Dengan Prestasi Bung

Posted by Ganas003 on September 21, 2019 in ,

Belanja jor-joran pemain handal ditengarai sanggup menjadi solusi untuk memperbaiki kondisi sebuah tim. Namun hal tersebut tidak selamanya berjalan praktis, seolah teori tersebut bisa memunculkan dua kemungkinan, yaitu berhasil atau gagal. Terlebih lagi bagi tim-tim medioker yang kerap kali empot-empotan untuk bersaing dengan tim besar di segala kompetisi. Hukum alam nampaknya berlaku juga di dunia sepak bola.


Meskipun ada lagi opsi lainya dengan mencari hibrida yang dipoles matang di akademi, guna menaikkan level sang pemain biar bisa bersaing secara ketat. Tetapi godaan investor atau yang disebut sugar daddy, selalu menarik hati sebuah tim, terutama tim medioker, atau yang sedang sulit secara finansial yang sanggup dimanfaatkan untuk dijadikan tim superior secara praktis. Tetapi hal tersebut tidak selalu sejalan dengan prestasi. Buruknya lagi, kedatangan pemain-pemain top dan berkelas tidak gampang untuk disatukan sebagai sebuah tim menjadi satu ganjalan tersendiri.


Valencia Menjajal Strategi Invetasi Pemain Besar-Besar, Tetapi Hasil yang Diraih Malah Kecil-Kecilan


joran pemain handal ditengarai sanggup menjadi solusi untuk memperbaiki kondisi sebuah tim Tak Selamanya Belanja Pemain Mahal Sepadan Dengan Prestasi Bung


Tim yang berlambang kelalawar ini pernah merasakan kesuksesan di tahun 2000-an awal. Bahkan sempat melaju ke partai final Liga Champions di tahun 1999. Sayang tim sekelas Real Madrid harus menghancurkan mimpi tersebut lewat lesatan Raul Gonzalez. Singkat dongeng ke trend 2015/2016, Valencia kedatangan ayah gres berjulukan Peter Lim yang coba menjalankan teori belanja pemain berbuah prestasi.


Beberapa nama menyerupai Andre Gomes, Joao Cancelo, Rodrigo, Alvaro Negredo didatangkan ke Valencia belum lagi kiper Brighton dan Hove Albion, Mathew Ryan bergabung dengan Valencia dari Club Brugge, Santi Mina dari Celta Vigo, Zakaria Bakkali dari PSV, Danilo dan Aderlan Santos dari Braga, dan Aymen Abdennour dari AS Monaco. Dengan total pembelanjaan yang mencapai € 131m ternyata hasil diraih yakni urutan 12 di La Liga Spanyol, tersingkir di babak penyisihan grup Liga Champions sekaligus kalah agregat 8-1 dari Barcelona di Piala Liga. Jelas saja hal ini menjadi pembelanjaan yang sia-sia bagi Peter dan Valencia.


Menjual Pemain Anyar Untuk Mendapatkan Pemain yang Lebih Menjanjikan


joran pemain handal ditengarai sanggup menjadi solusi untuk memperbaiki kondisi sebuah tim Tak Selamanya Belanja Pemain Mahal Sepadan Dengan Prestasi Bung


Everton dalam beberapa tahun belakangan menjadi tim medioker yang bisa menjegal tim besar. Di tahun 2014, The Toffes hampir saja masuk ke Liga Champions, sayang ia hanya bisa finish di peringkat ke-5 hingga dengan simpulan musim. Tak mau lagi terulang dengan kesialan yang sama, di trend ini sang striker asal Belgia dilego ke Manchester United dengan harga £ 75.


Tanpa pikir panjang lagi, hasil penjualan pun dijadikan pengeluaran untuk membangun tim dengan merekrut beberapa pemain menyerupai Gylfi Sigurdsson, Michael Keane, Jordan Pickford, Davy Klaassen,dan Sandro Ramirez. Sekaligus memulangkan si anak hilang, Wayne Rooney, dan memboyong pemain tercepat, Theo Walcott.


Lagi-lagi, hasil yang diraih belum menjadi timbal balik sepadan. Dari 30 pertandingan yang dijalani Everton sementara hanya menduduki peringkat 9 dengan 10 kali kemenangan, 13 kali kekalahan, dan 7 kali imbang. Bahkan, mereka harus legowo alasannya yakni di bawah tim sekelas Leicester City, dan juga Burnley.


Ketika Liverpool Mencoba Gas Pol Tetapi Prestasi Tetap Nol


joran pemain handal ditengarai sanggup menjadi solusi untuk memperbaiki kondisi sebuah tim Tak Selamanya Belanja Pemain Mahal Sepadan Dengan Prestasi Bung


Seketika Liverpool yang kerap menjadi materi olokan dan cibiran di media sosial, hampir saja menjadi jawara Liga Inggris trend 2013-2014.  Namun sayang, beberapa kesialan atau memang bukan rezekinya Liverpool membuatnya gagal total. Padahal tangga juara tampaknya sudah melenggang halus kolam kain sutra. Sampai-sampai muncul foto di Twitter, supporter Liverpool yang mencetak kaos “Liverpool Champions Premier League 2013-2014” secara optimis.


Gagal juara mungkin bisa diraih di tahun berikutnya, tetapi striker tajam milik The Reds, Luis Suarez, tetapkan pindah ke Barcelona. Sama menyerupai Everton, hasil penjualannya pun dibelanjakan dengan mendatangkan Rickie Lambert, Adam Lallana, Dejan Lovren, Emre Can, Lazar Markovic, Alberto Moreno, Divock Origi Lille, Javier Manquillo dipinjam dari Atletico Madrid, dan yang paling terkenal, Mario Balotelli dari AC Milan. Ya setali tiga uang dengan Everton, di trend 2014-2015 Liverpool hanya finis diperingkat keenam. Sakitnya lagi, adu terakhir menghadapi Stoke City harus diakhiri dengan kekalahan 1-6.


Mungkin Tottenham Belum Bisa Membuka Mata Liverpool Dan Everton Sebagai Pembelajaran


joran pemain handal ditengarai sanggup menjadi solusi untuk memperbaiki kondisi sebuah tim Tak Selamanya Belanja Pemain Mahal Sepadan Dengan Prestasi Bung


Sebelum Everton dan Liverpool yang tetapkan belanja pemain secara jor-joran, Tottenham lah yang pertama kali mempraktekkan. Setelah mejual Gareth Bale ke Real Madrid dengan biaya selangit, yakni £ 85 juta, Tottenham tetapkan memboyong tujuh pemain ke White Hart Lane. Paulinho, Nacer Chadli, Roberto Soldado, Etienne Capoue, Vlad Chiriches, Christian Eriksen, dan Erik Lamela yakni pemain yang didatangkan.


Agar makin matang, juru gedor gres pun didatangkan yakni Andre Villas-Boas yang di simpulan trend 2013-2014 harus dipecat karena prestasi yang dihadirkan tak sesuai keinginan. Parahnya lagi tim yang gres dibangun tersebut dibantai habis oleh Liverpool, Manchester City, Chelsea, hingga West Ham. Meski dari hasil memalukan tersebut, Tottenham kesannya menuntaskan trend itu di posisi ke-6.


AC Milan Hampir Bernasib Sama Dengan Tim Liga Inggris Lainnya


joran pemain handal ditengarai sanggup menjadi solusi untuk memperbaiki kondisi sebuah tim Tak Selamanya Belanja Pemain Mahal Sepadan Dengan Prestasi Bung


Kedatangan pemilik gres asal Tiongkok dimanfaatkan tim yang tujuh kali juara Eropa tersebut dengan belanja pemain. Nama-nama matang menyerupai Leonardo Bonucci, Andre Silva, Hakan Calhanoglu, Mateo Musacchio, Ricardo Rodriguez, Lucas Biglia, Andrea Conti, Franck Kessie, Fabio Borini, dan Nikola Kalinic pun jadi penghuni baru. Pada pertengahan trend Milan pun sudah terseok-seok dalam melakoni Liga Italia, hingga bongkar pasang instruktur pun dilakukan. Untungnya mantan pemain Gennaro Gattuso, bisa menyelamatkan Milan dengan perlahan meraih kemenangan dan merangsek naik ke urutan 6 dibawah tim sekota Inter Milan.