Cerita Bagus Dan Angkuh Sang Pensiunan Maestro Lapangan Hijau

Posted by Ganas003 on Oktober 21, 2019 in

Aski dribble dan nutmeg-nya terhadap pemain lawan mengundang decap kagum, karena skill yang ia gunakan tidaklah gampang untuk dilakukan. Apalagi publik sangat mengingat magisnya kala mempermainkan dua pemain Atlethic Bilbao di Camp Nou lewat Juggling.


Cuplikan itu bakal muncul ketika bung mencari keajaiban permainan Ronaldinho di Youtube. Ronaldinho Assis De Moreira yakni salah satu legenda sepakbola yang gres pensiun pada 17 januari 2018 lalu.


Keputusan Ronaldinho untuk pensiun ada hal masuk akal bagi pemain kelahiran tahun 1980. Top performanya sudah lewat, meskipun kata bisa masih berada di kepala untuknya bermain 2 tahun lagi. Bakat sepakbolanya didapati dari ayahnya, joao, seorang pekerja pelabuhan sekaligus pemain sepakbola tim Ezporte Clube Cruizero. Mengalirnya darah sepakbola menciptakan Ronaldinho sudah menggemparkan dunia ketika muda dengan memborong 23 gol kala membela Gremino melawan tim lokal.


Sejak  membantu Gremio menang 23-0 nama Ronaldinho mulai disebut-disebut dan diincar banyak klub Eropa, pemain yang selalu tersenyum setiap turun di lapangan mulai dikenal dan disegani. Kesuksesan dan kematangan sebagai pemain didapat olehnya, namun ada pula sifat angkuh ternyata yang tertanam di pemain yang suka senyum ini.


Hampir Berseragam The Gunners Namun Tak Kesampaian Karena Regulasi Yang Menentang


nya terhadap pemain lawan mengundang decap kagum Cerita Manis dan Arogan Sang Pensiunan Maestro Lapangan Hijau

Sumber : Goal.com


Bakatnya yang tercium hingga ke benua Eropa, menciptakan banyak klub yang ingin meminangnya. Alhasil perburuan tanda tangan dilakukan untuk memboyong pemain muda berbakat asal Brazil ke klub Eropa. Sebagai tim yang memang mempunyai scout talent terbaik nama Ronaldinho ternyata sudah dipantau semenjak tahun 2000 oleh The Gunners.


Namun sayang karena izin kerja menjadi penghalang bagi Ronaldinho berakarier di Inggris sehingga hal tersebut menciptakan Arsene Wenger geram dan megecam aturan. Tak pelak, Ronaldinho pun malah berlabuh ke klub Perancis, Paris Saint German, dengan nilai transfer 5 juta Poundsterling.


Itu yakni hukum yang saya tidak saya sukai dan itulah mengapa saya pikir kami harus mempunyai sistem kuota (pemain asing),” Arsene Wenger mengeluhkan kondisi tersebut menyerupai dilansir The Sun.


Mengubah Permain Barcelona Sekaligus Dihargai Di Kandang Rival Abadi


nya terhadap pemain lawan mengundang decap kagum Cerita Manis dan Arogan Sang Pensiunan Maestro Lapangan Hijau

Sumber : Goal.com


Kalau berbicara soal kepiawaian dan top performa, Barcelona jawabannya. Ronaldinho berubah menjadi sebagai dewa, di mana ia dengan gampang menggocek dan mempermainkan pemain Liga Spanyol lainya. Ia pun kerap menjadi pendekar ketika El Clasico di mulai. Sergio Ramos dan Iker Casillas pada ketika itu menjadi korban kematangan skill cowok Brazil.


Di tahun 2005, kala Real Madrid menjamu Barcelona di Santiago Bernabeu, dua agresi solo-nya sukses menjebol gawang Madrid dan menciptakan publik ibu kota Spanyol porak-poranda. Ternyata agresi memukaunya tak hanya mengundang geram tapi juga mengunadng respct dari Madridista. Moment tersebut bahkan tidak sanggup dilupakannya.


Saya tidak akan melupakan itu alasannya yakni sangat jarang ada pesepakbola mendapat applause dengan cara menyerupai itu dari pendukung lawan,” kenang Ronaldinho.


Merasakan Hangatnya Liga Itali Dengan I Rossoneri


nya terhadap pemain lawan mengundang decap kagum Cerita Manis dan Arogan Sang Pensiunan Maestro Lapangan Hijau

Sumber : Goal.com


Setelah masa keemasannya di Barcelona telah dilewati, Ronaldinho melaksanakan perluasan ke AC Milan untuk memperlebar petualangannnya, Pada bulan Juli 2008 Ronaldinho mulai resmi menjadi pemain I Rossoneri, banyak yang memprediksi jikalau kegemilangannya telah berakhir. Lantara pindah dari Barcelona.


Walaupun pernyataan tersebut tidak sanggup disangkal tetapi Ronaldinho berhasil menyumbangkan satu gelar Scudetto dalam masa baktinya selama dua setengah tahun. Performa terbaiknya menyerupai di Barcelona tak lagi kembali, namun sentuhan terhadap bola dan beberapa gocekannya tetap angker menyerupai biasa, Bahkan itu pun diakui oleh seroang Zlatan Ibrahimovich.


“Ronaldinho sanggup menciptakan lawan sepert anak kecil ketika di dalam lapangan,” Ujar Zlatan.


Kembali Ke Kampung Halaman Malah Membawa Arogansi


nya terhadap pemain lawan mengundang decap kagum Cerita Manis dan Arogan Sang Pensiunan Maestro Lapangan Hijau

Sumber : Goal.com


Pada tahun 2011 Ronaldinho kembali ke benua Amerika dengan bergabung salah satu klub Liga Brazil, Flamengo, sehabis masa jaya Ronaldinho di benua Eropa menyerupai ada suatu star syndrome yang dialami oleh pemain yang berhasil mendapat trophy Ballon d’Or di tahun 2006. Ronaldinho begitu menganggap remeh klub, bahkan ia lebih suka ke klub malam ketimbang berada di daerah latihan.


Bahkan ia lebih keras berpesta dibandingkan bermain sepakbola. Nama besarnya di Eropa bahkan dunia dimanfaatkan untuk menikmati hidup gampang di negeri asalnya. Gemerlap dunia malam sudah membelenggu dirinya, ia lebih menyukai perempuan dari pada sorak-sorak penggemarnya. Bahkan ia tak sungkan menyampaikan kepada Wanderlei Luxemburgo, eks manajer Flamengo dengan satu hinaan yang tak pantas. “you’re s***, you’re poor… I own three aeroplanes” menyerupai dikutip dari Backpagefootball.


Tak Kunjung Sadar Malah Makin Bertingkah Kurang Ajar


nya terhadap pemain lawan mengundang decap kagum Cerita Manis dan Arogan Sang Pensiunan Maestro Lapangan Hijau

Sumber : Goal.com


Setelah di depak dari Flamengo, Ronaldinho kemudian “dibuang” ke Atletico Mineiro yang juga merupakan salah satu tim di Brazil. Namun, sehabis dibuang dari Flamengo, sifat Ronaldinho bukan malah melunak tapi malah makin mengeras dan semakin bertingkah semena-mena. Bayangkan saja, pada ketika press conference Atletico Mineiro, yang disponsori oleh Coca-cola, dengan santainya Ronaldinho membawa Pepsi ke meja prescon yang mana Pepsi yakni kompetitor dari Coca-cola.


Tak hanya kelakuannya saja, namun permainan di lapangan juga tak kunjung membaik. Menyaksikan Ronaldinho bermain menyerupai di Barcelona yakni hal yang fana. Bahkan, ia kemudian sering terlihat resah dalam membuka kesempatan ketika timnya menyerang. Pada tahun 2014 kontraknya pun diperputus. Setelah dari Atletico Mineiro, ia berlabuh ke Quretaro dan Fluminense di tahun 2015.